Pesan untuk pak JOKOWI, cara mengatasi kemacetan di Jakarta.

Posted on November 24, 2012

11


trafik 2

Beberapa waktu yang lalu ketika salah salah satu Televisi Swasta nasional memberitakan tentang kemungkinan Jakarta akan lumpuh total pada tahun 2014 karena kemacetan, timbul pemikiran bagi saya untuk ikut memikirkan apa yang telah, sedang dan akan terjadi dimasa yang akan datang sehubungan dengan kemacetan lalu lintas. Khususnya untuk Jakarta dan kota kota besar lainya di Indonesia, kemacetan adalah suatu hal yang sangat menguras energi waktu dan biaya yang luar biasa. Untuk itu tulisan ini ini saya tujukan khususnya  untuk gubernur DKI Jakarta bapak Jokowi dan seluruh pihak yang terkait termasuk Dephub dan Kepolisian lalu lintas serta para pejabat Gubernur dan Bupati di seluruh Indonesia pada umumnya. Tentunya ide yang saya sampaikan ini saya harapkan bisa dimplementasikan sebelum prediksi mengenai kelumpuhan Jakarta benar-benar terjadi. Saya yakin walau semua penduduk Jakarta menggunakan kendaraan pribadi, apbila ide ini diimplementasikan Jakrta tidak akan Lumpuh akibat macet.

Semua kita sudah mengetahui apa yang dsebut dengan macet bukan?  Namun seberapa besar keperdulian tentang kemacetan ini diimplementasikan dengan didahului oleh studi dan analisa yang baik. Banyak sekali yang mengaku pakar tranportasi mengemukakan tentang penyebab kemacetan dan upaya yang ditempuh untuk meminimalisasi kemacetan tersebut. Antara lain yang dilakukan adalah Kawasan 3 in 1, pembatasan atau clean area kendaraan R2, Car Free Day Jalur khusus bus way, jalur kiri khusus motor (faktanya jalur cepat hanya untuk mobil pribadi😀 agar ngak macet) dll. Namun semua itu terbukti tidak memberikan hasil sesuai yang diharapakan. Sering juga pejabat Negara seperti Gubernur atau Parlemen melakukan study banding ke Luar Negeri dengan tujuan untuk mempelajari dan mengatasi masalah ini, akan tetapi yang didapat tidak lebih sekdar jalan-jalan keluar negeri alias plesiran dan menggunakan uang hasil keringat buruh untuk hal hal yang tidak berguna (heks heks soalnya pajak umumnya sumbernya dari buruh lo pak, PPh21, PPN, PPH Badan hasil keringat buruh kan. Kalau ngak ada buruh pajak tersebut ngak ada kan? dan sebagain Retribusi dan PBB juga dari penduduk yang berprofesi buruh lo pak.🙂 Kalau diperhatikan masalah kemacetan bukanlah studi banding dan sejenisnya tapi Masalah kemauan untuk membaca situasi dan mengmbil kebijakan yang tepat untuk mengatasinya.

Berbicara mengenai Lalu lintas berarti bicara Arus. Dalam pengertian sehari hari sebagaimana yang saya pahami arus adalah aliran atau mengalir, yang bisa diumpamakan seperti aliran air. Ketika arus tertahan maka akan terjadi kemacetan jika arus itu berupa aliran air maka akan terjadi luapan yang dalam skala besar disebut banjir. Kondisi ini dalam lalu litas sering kita jumpai ketika pengendara sepeda motor meluap keluar jalan alias Trotoar🙂. Dari sini kita dapat kata kunci bahwa kemacetan itu adalah arus yang meluap karena tertahan,:mrgreen: Nah kalau begitu untuk mengatasi kemacetan caranya cuma satu yaitu menghilangan sesuatu yang menghambat Arus:! hehehe simple sekali  ya :?  Ya sebenarnya masalah kemacetan adalah masalah simple jika ditangani dengan benar dan serius.

Untuk lebih jelas mengenai kondisi lalau lintas di Indonesia saat ini dan khususnya di Jakarta silahkan melihat gambar berikut:

trafik 1

 

Jika diperhatikan dengan seksama maka akan terlihat dalam kondisi yang tertib sekalipun kemacetan tidak dapat di hindari. Coba perhatikan posisi pertigaan dan lebih lebih perempatan. Pada posisi ini aliran kendaraan dari suatu arah sangat tidak terkontrol dimana setiap kendaraan bebas menuju kearah mana yang mereka mau, meskipun itu menggangu arus dari arah lain. Lebih tepatnya adalah arus yang saling menggangu sehingga terjadi benturan arus yang sangat besar. Belum lagi akibat dari kendaran yang berputar balik untuk jalan yang sempit. Kita bisa bayangkan jika arus ini adalah air maka jelas tidak ada lagi yang namanya sungai karena yang mungkin adalah setiap perempatan akan berubah menjadi danau atau banjir, atau dalam kondisi lalu lintas kita tidak butuh lagi perempatan jalan karena yang dibutuhkan adalah dataran luas terbebas bangunan dan trotoar agar setiap kendaraan dapat bergerak kearah mana saja yang mereka mau. Minimal untuk lebih lancar setiap pertigaan dan perempatan harus dibuatkan Bundaran HI supaya arus bisa bergerak berputar sebelum menuju arah yang di inginkan (wowow bagaimana pepbebasan lahanya ya).

So bagaimana mengatasinya pak?  Kalau

saja dari dahulu Pemkot DKI Jakarta yang membidangi transportasi dan lalu lintas mau sedikit berpikir bekerja dengan benar atau tidak hanya berpikir Jabatan dan Uang, masalah ini tidak akan terjadi, dan efisiensi akan sangat besar diperoleh diantaranya:

➡ Waktu di jalan dapat terukur atau diestimasi. ( Jarak dan waktu tempuh bisa dihitung)

➡ Stress di jalan sangat berkurang bahkan bisa dihilangkan (sudah ngak macet)

➡ Pemakaian bahan bakar dapat di hemat. (waktu di jalan jauh lebih pendek)

➡ Ketertarikan untuk menggu

nakan angkutan umum naik (lancar bo ngak capek dibanding bawa kendaran sendiri)

➡ Kecelakaan bisa di tekan. (tidak ada adu kambing)

➡ Biaya perbaikan R4 atau lebih akibat serempetan dijalan turun drastis (ngak saling serobot di kemacetan atau di persimpangan)

➡ Tidak perlu banyak petugas

lalu lintas dan dishub. (sebagian bisa di pecat😉 karena ngak bekerja untuk melayani rakyat, banyak terlihat di jalan setelah digaji rakyat malah jadi pungli rakyat harusnya kan melaya

ni rakyat)

➡ Tidak perlu adanya Pak Ogah (sebagian dipekerjakan pak Pol:mrgreen: )

➡ Tidak banyak pungli (tilang-akal-akalan yang menyengsarakan rakyat)

:arrow:  Parkir di jalan akan hilang (tak

ut keseret / keserempet arus).

:arrow:  dll yang belum di jabarkan

Untuk lebih jelasnya dapat melihat gambar ke 2 berikut:

trafik 2

Tampa penjelasan panjang lebar

dapat disimpulkan bahwa Kemacetan dapat di hilangkan dengan cara mengatur arus tetap mengalir, yaitu dengan satu satunya cara membuat setiap jalan raya menjadi satu arah. Apakah itu mungkin? Ini sangat mungkin jika Pemprov DKI Jakarta mau memulai untuk mencoba. Kuncinya adalah

  1. Sediakan pasangan jalan d an jalan penghubungnya seperti gambar ke dua (bayangkan seperti tangga bambu) agar bisa mencapai lokasi yang di inginkan pengguna.
  2. Setiap persimpangan hanya memberikan 2 al ternatif  yaitu lurus atau belok sesuai arus yang ada.

Sebagai contoh untuk aplikasi

  1. Jalan Sudirman dan lurusannya di gunakan untuk dari wilayah selatan Jakarta mnuju Arah Utara, sementara Jalan Rasuna Said dan lurusannya digunakan untuk menuju arah selatan. Jakarta
  2. Jalan Casa Blanka dan terusannya menuju arah Timur, Jalan Kali Malang-Gatsu dan terusannya menuju arah barat.

Demikian juga dengan jalan jalan yang lain di upayakan untuk satu arah dimana jalan yang sejajar paling berdekatan harus berlawanan arah. Jeka ide ini cocok petugas terkait tinggal menentukan arah masing masing jalan. Susah? Bagi saya memeang susah tapi bagi pemprove mestinya ngak susahlah.

Jalan dua arah seperti yang ad

a saat ini hanya cocok dan bisa diaplikasikan untuk jalanan komplek perumahan dimana penggunaka bukan dari kalangan umum. (ini baru tida

k akan macet :mrgreen:)

Satu satunya kelemahan metode ini adalah jarak dari suatu tempat ke tempat lain  mungkin menjadi sedikit lebih jauh akan tetapi semua terbayar dengan kelancaran. Dalam perspective lain bisa juga jarak berangkat lebih jauh sementara jarak pulang tetap atau sebaliknya. Kelebihan dalam jarak tempuh ini mengkin bertambah secara rata rata 5 % sementara waktu yang dihemat bisa mencapai 70 %,😀 keren ngak tuh.😎

Untuk Pak Jokowi dan jajarannya yang barangkali sempat membaca thread ini mohon dipertimbangkan ya? Aplikasi metode ini dapat bapak lihat langsung di Singapore, khususnya Orchard Road sampai Marina Bay.

Semoga bermamfaat.

Posted in: Kontrol Sosial