SKEMA PERPAJAKAN PERUSAHAAN 1.

Posted on Desember 13, 2013

3


Sebelum meneruskan membahas prosedur perpajakan ada baiknya terlebih dahulu membahas Skema Perpajakan secara umum agar pembahasan Prosedur Perpajakan berikutnya bisa lebih mudah untuk dipahami.

Pada dasarnya pajak perusahaan digolongkan dalam 2 kategori yaitu:

  1. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atau dikenal juga dengan istilah VAT (Value Added Tax).
  2. Pajak Penhasilan (PPh) atau yang bisa dikenal juga dengan istilah Income Tax .

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dapat digambarkan dalam Skema sebagaiman gambar berikut ini:

SKEMA PPNPajak Masukan (PM) adalah PPN yang dibayarkan atas pembelian barang dan jasa kepada penjual (supplier) dalam negeri yang dibuktikan dengan Faktur Pajak (Purchase Tax Invoice) yang diterima. Sementara itu pembayaran keluar negeri atas “Pembelian Import” PPNnya langsung dibayarkan ke Kas Negara melalui SSPCP sesuai dengan nilai yang tercantum dalam Pemberitahuan Import Barang (PIB) kepada Ditjen Bea dan Cukai.

Pajak Keluaran (PK) adalah PPN yang uangnya diterima dari pembeli (costomer) dengan menyerahkan Faktur Pajak (Sales Tax Invoice) sebagai bukti pemungutan pajak oleh perusahaan kita.

Dalam masa satu bulan ( 1 kali masa pajak ) Pajak Masukan dan Pajak Keluaran yang kita peroleh dilaporkan melaui SPT masa PPN dalam bentuk e-SPT PPN kepada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) sebelum tanggal 30 (akhir bulan) berikutnya . Dalam SPT masa PPN akan diketahui perbedaan jumlah PK dengan PM. Jika jumlah PK lebih besar dari pada PM maka selisihnya merupakan PPN kurang bayar dan harus disetor ke Negara dengan menggunakan SSP paling lambat sebelum SPT Masa disampaikan.

Perlu di ingat bahwa SPT masa harus disampaikan paling lambat akhir bulan berikutnya dari masa pajak.

Sementara itu jika perusahaan kita adalah Eksportir dimana dalam melakukan Eksport Barang dan jasa kita tidak menerbitkan Faktur Pajak Keluaran menurut ketentuan undang undang maka dapat dipastikan di SPT Masa PPN jumlah PM akan lebih besar daripada PK, kecuali export hanya sebagian kecil dari omset penjualan secara keseluruhan. Selisih lebih Pajak Masukan terhadap Pajak Keluaran ini merupakan PPN Lebih Bayar yang dapat dimintakan kembali ke Negara dengan cara memilih tombol restitusi pada SPT Masa PPN. Dalam waktu paling lama 1 tahun jumlah yang kita mintakan dikembalikan (Restitusi) akan diiterbitkan Surat Ketetapan Pajak (SKP) setelah melalui pemeriksaan oleh pemeriksa pajak. Jika permintaan restitusi diterima dengan diterbitkan SKP Lebih Bayar maka dalam waktu satu bulan jumlah Lebih bayar yang tercantum dalam SKPLB akan ditransfer ke rekening Bank Perusahaan. Jika Nilai SKPLB lebih kecil dari jumlah Restitusi yang diajukan maka kita dapat menyetujui SKPLB tersebut atau malakukan keberatan kepada Kantor Wilayah DJP ditempat perusahan kitas berada. Jika SKPLB kita setujui setujui maka selisih antar nilai restitusi dan nilai SKPLB akan menjadi biaya Non Operating Expense (NOE) di perusahaan kita namun tidak menjadi biaya pada Perhitungan PPh Badan tahun berjalan (korekasi Fiscal).

Disamping direstitusikan dapat juga diikompensasikan kemasa berikutnya dimana jumlah lebih bayar tersebut kan diakumulasikan dalam SPT masa berikutnya sebagai PM. Jika dalam SPT Masa berikutnya juga terjadi lebih bayar maka dapat direstetusikan atau dikompensasikan, demikian seterusnya.

Untuk Skema PPh Akan di lanjutkan dalam artikel terpisah,..

Semoga bermamfaat,..

Posted in: Akuntansi